Setelah setengah abad berjalan, banyak kritik yang mengarah pada IMM. Kalau dikumpulkan bisa banyak sekali. 1)ketiadaan gerakan pemikiran [1] ; 2)lemahnya budaya literasi.[2] 3)merosot di bidang intelektualitas [3] ; 4)tidak sesuainya paradigma ikatan dari tingkat komisariat hingga pusat [4]; 5)kurang transformatif [5]; 6)belum benar-benar menjadi gerakan sosial.[6] 7) cenderung lupa pada jatidiri Muhammadiyah.[7] 8)IMM telah terlibat dan terjebak dalam politik praktis.[8] 9)dipandang negatif oleh bapak Muhammadiyah.[9] 10) Pola perkaderan yang doktriner sehingga tidak peka menangkap perkembangan zaman.[10]
Tuesday, April 29, 2014
MERANCANG PEMIKIRAN ORGANISASI
Setelah setengah abad berjalan, banyak kritik yang mengarah pada IMM. Kalau dikumpulkan bisa banyak sekali. 1)ketiadaan gerakan pemikiran [1] ; 2)lemahnya budaya literasi.[2] 3)merosot di bidang intelektualitas [3] ; 4)tidak sesuainya paradigma ikatan dari tingkat komisariat hingga pusat [4]; 5)kurang transformatif [5]; 6)belum benar-benar menjadi gerakan sosial.[6] 7) cenderung lupa pada jatidiri Muhammadiyah.[7] 8)IMM telah terlibat dan terjebak dalam politik praktis.[8] 9)dipandang negatif oleh bapak Muhammadiyah.[9] 10) Pola perkaderan yang doktriner sehingga tidak peka menangkap perkembangan zaman.[10]
Saturday, December 21, 2013
ALIANSI GERAKAN INTELEKTUAL*
Oleh: Zamzam Muhammad Fuad
Tulisan ini hendak mencari
tau dan menawarkan solusi, mengapa gerakan mahasiswa (GM), khususnya di
Purwokerto, belum dapat disebut sebagai kekuatan politik yang diperhitungkan
oleh para pejabat pengampu kebijakan, masyarakat, dan kelompoknya sendiri.
Aksi turun jalan yang
membawa tuntutan kepada pemerintah dan legislator sering hanya berakhir di
depan gerbang pintu masuk gedung parlemen. Tuntutan mahasiswa diterima saja,
namun jarang sekali tuntutan itu terealisasikan. Ini menandakan bahwa GM belum
menjadi kekuatan politik yang cukup diperhitungkan. Selain itu, jarang sekali
masyarakat yang secara spontan mau ikut dalam “rally” demonstrasi, kecuali
sebelumnya memang ada kelompok masyarakat yang memang sudah bersepakat mau
ambil bagian. Ini mengindikasikan masih lemahnya kekuatan GM di depan
masyarakat, dan lemahnya GM dalam menyebarkan propaganda. Di lain sisi, GM juga
ternyata belum ditanggapi oleh masyarakat kampus sebagai kekuatan yang populer
sekaligus signifikan. Contoh paling nyata adalah semakin sulitnya organisasi GM
dalam menjaring anggota baru. Mengapa bisa demikian?
Tuesday, November 19, 2013
MEMAHAMI MENTALITAS LEWAT MONUMEN
Melahirkan itu meregang nyawa, maka jangan membenci
orang tua. Pesan ini lalu diterjemahkan dalam cerita. Kita ingat pada Malin yang
jadi batu setelah mengacuhkan ibunya. Kisah serupa juga mengalir di Maluku.
Alkisah ada anak yang sewenang-wenang pada ibunya. Tak tahan, ibunya lebih rela
ditelan batu daripada hidup dengan anak-anaknya.
Tapi orang tua juga tak selalu
can do no wrong. Kalau kita ingat
cerita tentang bawang merah bawang putih, akan timbul kesan bahwa ada juga
orang tua jahat pada anaknya. Apalagi jika kita buka-buka halaman koran, ada
ibu yang tega menjual, mengaborsi, dan memutilasi darah dagingnya. Di sini sang
anak berada dalam posisi antara. Ia diajak untuk mengerti bahwa tak akan
dirinya tanpa ada orang tua. Tapi disisi lain sang anak diajak untuk memahami
orang tua sebagai manusia pada umumnya, yang can do wrong.
Friday, November 1, 2013
ORIENTALISME DALAM JURNAL INTERNASIONAL
Zamzam Muhammad Fuad
Tulisan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana peran jurnal ilmiah internasional dalam memantapkan hegemoni imperialisme Eropa-Amerika. Dewasa ini, ada pendapat bahwa kualitas pendidikan suatu negara diukur dari seberapa banyak para ilmuwan di suatu negara mampu mempublikasikan karya ilmiah di jurnal ilmiah internasional. Bila ditinjau secara karikatural, bebas nilai, dan apolitis, pendapat itu mungkin benar. Namun bila dipandang lewat pendekatan paskakolonial dan Foucauldian tentang pengetahuan dan kekuasaan, pendapat itu bisa dipersoalkan. Apabila dua perspektif itu yang digunakan maka akan muncul sebuah kesimpulan bahwa jurnal ilmiah internasional merupakan instrumen tak kasat mata yang digunakan oleh negara maju (Eropa-Amerika-Australia) untuk menguasai negara-negara berkembang (Asia-Afrika). Lebih jauh lagi, dalam hubungan antara negara maju dan berkembang, jurnal ilmiah internasional memiliki dua peran strategis. Pertama, sebagai sistem panoptik yang memagari sistem kognitif ilmuwan di negara berkembang. Kedua, sebagai watchdog yang menjaga hubungan produksi akademis yang timpang antara negara maju dan negara berkembang. Sedangkan dalam kaitannya dengan Indonesia, jurnal ilmiah internasional menghalangi perkembangan ideologi Pancasila sebagai paradigma baru ilmu sosial Indonesia.
Kata kunci: Jurnal ilmiah internasional, pengetahuan dan kekuasaan, imperialisme akademis.
Thursday, March 21, 2013
SERIUS MENEGAKKAN HUKUM
Zamzam Muhammad Fuad
Sudah banyak produk hukum yang baru. Dari sisi itu, seharusnya bangsa ini mampu bangkit. Tapi nyatanya hukum tak dijalankan secara serius. (Mahfud M.D)
Penegakan hukum masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa ini. Seringkali, hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Gembong narkoba, kerabat pejabat, koruptor, jarang tersentuh oleh sanksi pidana yang menjerakan. Sebaliknya, masyarakat lemah tuna harta dan kuasa jadi sasaran empuk pemenjaraan puluhan tahun.
Subscribe to:
Posts (Atom)




