Friday, March 16, 2018

DERITA TKI TIADA HENTI

Zamzam Muhammad



Review buku
Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Marjin Kiri, Jakarta


Ada cerita indah mengenai Indonesia. Yakni tentang negeri yang memiliki tanah air yang subur, sumber daya alam melimpah, dan masyarakat ramah berbudaya. Tapi siapa mengira ini hanyalah dongeng untuk menutupi penderitaan yang tiap hari dihadapi warga negaranya. Indonesia bukan hanya tentang mooi indie, melainkan tentang realisme sosial yang bercerita tentang penghisapan dan penindasan. Persis seperti yang dialami para Tenaga Kerja Indonesia kita. Novel berjudul Dawuk mengisahkannya.

Dawuk bercerita tentang sepasang TKI yang berasal dari Desa Rumbuk Randu. Inayatun dan Mat Dawuk adalah pasangan suami istri yang merepresentasikan nasib TKI di Malaysia. Inayatun dan Mat Dawuk merupakan symbol para TKI yang mengalami penindasan tiada habisnya, baik oleh majikannya, keluarganya, dan masyarakatnya, di Malaysia ataupun Indonesia.

Sunday, February 11, 2018

SATIRE INTELEKTUAL AMATIR


Zamzam Muhammad Fuad


Pegawai mengoreksi atasan merupakan kejadian sangat langka dalam kehidupan birokrasi kita. Birokrasi kita adalah warisan Orde Baru, yang ditandai dengan sikap hormat, patuh, dan tunduk sebagai bahasa sehari-harinya. Jika ada yang tidak patuh, maka bawahan ada dalam posisi terancam. Bisa dipindah, bisa juga dilepaskan dari jabatan alias dipecat (Agus Dwiyanto, 2016).

Namun yang terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK) baru-baru ini memang di luar kebiasaan. Ada seorang pegawai MK yang “mengetuk hati nurani” Ketua MK untuk meletakkan jabatannya. Menurut pegawai tersebut, Ketua MK telah melanggar kode etik. Belakangan diketahui bahwa pegawai itu merupakan seorang pejabat fungsional peneliti.

Saturday, February 3, 2018

BELAJAR PADA SASTRAWAN BESAR

Zamzam Muhammad


Review buku: 
Proses Kreatif (Jilid I): Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang 
Penulis: Pramoedya Ananta Toer, dkk
Editor: Pamusuk Erneste
Penerbit: KPG, Jakarta

Autobiografi selalu menarik untuk dibaca. Karena dengannya kita bisa belajar, bagaimana seorang biasa bisa menjadi legenda. Autobiografi mengajarkan pada kita bahwa kesuksesan tidak bisa instan. Selalu ada air mata untuk menjadi juara. Ada perjuangan untuk untuk meraih keberhasilan.

Kita pun selalu bertanya. Bagaimana sih seseorang berjuang untuk meraih kemenangan. Bagi para penulis pun sama. Bagaimana ya penulis-penulis besar itu mampu melahirkan karya menakjubkan itu. Ada rasa penasaran bagi penulis pemula untuk selalu mengetahui kisah kehidupan teladannya. Harapannya sederhana. Semoga saja bisa ketularan sukses kalau kita teladani proses perjuangannya.

Sunday, January 28, 2018

PEKERJA RENTAN DI KAPITALISME PINGGIRAN

Zamzam Muhammad


Review buku: 
Surplus Pekerja di Kapitalisme Pinggiran: Relasi Kelas, Akumulasi, dan Proletariat Informal di Indonesia  sejak 1980an
Penulis: Muhtar Habibi
Penerbit: Marjin Kiri, Tangerang

Kapitalisme akan gugur dengan sendirinya. Ia punya banyak kontradiksi yang akan menghancurkan dirinya sendiri. Kontradiksi kelas pekerja misalnya. Kapitalisme membutuhkan berjubel proletariat untuk mengakumulasi kapital. Tapi, percayalah, kaum proletariat tidak akan tinggal diam. Lagian, siapa yang betah ditindas terus menerus. Kaum proletariat akan bersatu, bangkit bersama untuk melawan kaum borjuis. Dan Komunisme akan terbit, tepat saat kapitalisme tenggelam. Communism will win!

Friday, January 26, 2018

MENYINGKAP PELABUHAN CILACAP

 Zamzam Muhammad


Review buku: 
Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa
Penulis: Susanto Zuhdi
Penerbit: KPG, Jakarta

Apa yang tergambar ketika nama Cilacap disebut? Teluk penyu. Benteng Pendem. Nusakambangan. Panas. Gersang. Pacaran. Masih bisa dideret lebih panjang lagi jika mau. Tapi Cilacap sebagai “pelabuhan”, nyaris tidak terbayangkan.

Siapa mengira pelabuhan Cilacap pernah menjadi primadona di Jawa? Kalau kita tengok sekarang, di sana hanya ada tanker milik Pertamina (daridulu posisinya sama) dan kapal nelayan yang bisa membawa wisatawan ke Nusakambangan. Tidak pernah terpikir Cilacap pernah memiliki pelabuhan dagang terbesar di Jawa setelah Semarang.