Saturday, December 21, 2013

ALIANSI GERAKAN INTELEKTUAL*


Oleh: Zamzam Muhammad Fuad

Tulisan ini hendak mencari tau dan menawarkan solusi, mengapa gerakan mahasiswa (GM), khususnya di Purwokerto, belum dapat disebut sebagai kekuatan politik yang diperhitungkan oleh para pejabat pengampu kebijakan, masyarakat, dan kelompoknya sendiri.

Aksi turun jalan yang membawa tuntutan kepada pemerintah dan legislator sering hanya berakhir di depan gerbang pintu masuk gedung parlemen. Tuntutan mahasiswa diterima saja, namun jarang sekali tuntutan itu terealisasikan. Ini menandakan bahwa GM belum menjadi kekuatan politik yang cukup diperhitungkan. Selain itu, jarang sekali masyarakat yang secara spontan mau ikut dalam “rally” demonstrasi, kecuali sebelumnya memang ada kelompok masyarakat yang memang sudah bersepakat mau ambil bagian. Ini mengindikasikan masih lemahnya kekuatan GM di depan masyarakat, dan lemahnya GM dalam menyebarkan propaganda. Di lain sisi, GM juga ternyata belum ditanggapi oleh masyarakat kampus sebagai kekuatan yang populer sekaligus signifikan. Contoh paling nyata adalah semakin sulitnya organisasi GM dalam menjaring anggota baru. Mengapa bisa demikian?

Berbagai analisa dan jawaban sudah mengemuka. Harry Kusuma menuliskan bahwa semua ini adalah lantaran rezim neoliberal sudah merangsek ke sektor pendidikan tinggi. Akibatnya, selain pendidikan tidak dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat, komersialisasi pendidikan juga mematikan nalar kritis mahasiswa.[2] Selain itu, saya juga pernah menyoroti hal ini lewat beberapa tulisan. Beberapa jawaban adalah lantaran kampus sedang diserang oleh rezim entrepreneur,[3] ; dan lantaran para aktifis gerakan mahasiswa terjebak dalam politik praktis perebutan kursi empuk kekuasaan[4]. Bagus Irmawansyah juga memiliki pandangan hampir serupa. Ia sangat menyayangkan eksistensi GM yang tercemar oleh kepentingan aktor politik praktis.[5] Sekalipun sudah banyak disinggung, dalam tulisan ini saya akan membuka wacana lain. Meskipun masih sama kepentingannya adalah untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang sama.

Telah disinggung, ada tanda yang mengindikasikan GM kurang diperhitungkan. Bagi saya, ini bisa jadi disebabkan lantaran faktor internal dan eksternal. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya hanya akan menyinggung pada faktor internal saja: kurangnya imajinasi politik dalam melakukan gerakan perubahan. Atau dalam bahasa yang lebih ofensif saya mengritik kecenderungan gerakan mahasiswa yang sudah puas ketika sudah melakukan demonstrasi turun ke jalan, dan seolah-olah tidak ada cara lain dalam berjuang selain dengan cara itu.

Mengapa bisa aksi turun ke jalan menjadi ideal type GM sekarang dan besar kemungkinan juga masih diimani oleh para aktivis pergerakan di Purwokerto? Sebagaimana pernah ditulis oleh Masilliam Simanjuntak, kecenderungan GM yang identik dengan massa aksi lantas turun ke jalan adalah warisan GM 1965. Kata Marsiliiam, meskipun gerakan ini adalah sangat khas 65, namun genealoginya bisa dirunut sampai kegandrungan Soekarno pada machtvoorming.[6] Bahkan menurut Yudi Latif, kegandrungan gerakan pada aksi massa turun ke jalan bisa dilacak sampai pada zaman Sarekat Islam yang gandrung melakukan “rally”.[7]

Kita boleh setuju, aksi turun ke jalan pernah berhasil merubah struktur kekuasaan di Indonesia. Misalnya, gerakan massa yang berhasil membawa republik ini menuju pintu gerbang kemerdekaan. Di tahun 65-66, aksi turun ke jalan yang dilakukan mahasiswa berhasil meruntuhkan rezim Orde Lama. Demikian juga aksi-aksi mahasiswa tahun 1998 berhasil menyingkirkan Soeharto dari kursi kekuasaan formal.

Namun, merupakan sebuah analisa yang nyentrik nan aneh jika kita mengatakan bahwa perubahan itu hanya dilakukan lantaran aksi massa dari sebuah gerakan mahasiswa yang murni. Sebab, ini menyingkirkan fakta bahwa gerakan massa sebelum kemerdekaan dimulai dengan munculnya print capitalism yang sudah dimulai sejak tahun 1920an. Aksi-aksi 65-66 juga bukan gerakan mahasiswa murni, karena embrio kekuasaan Soeharto juga ikut andil dalam meruntuhkan rezim orde lama. Selain itu, aksi-aksi 1998 juga dilandasi semangat intelektual menentang rezim soeharto yang sudah tergelar sejak tahun 1980 lewat pengguliran wacana civil society.

Yang hendak saya katakan di sini adalah suatu hipotesa bahwa: Perubahan struktur politik indonesia tak hanya dipengaruhi oleh aktivitas aksi massa, namun juga dipengaruhi oleh aktivitas gerakan intelektual yang telah merentang sebelum melakukan aksi massa.

Lewat hipotesa tersebut, kita akan sampai pada satu kesimpulan. Kurang diperhitungkannya GM lantaran kurangnya gerakan intelektual dalam organisasi dan lintas organisasi. Hal ini menyebabkan aksi-aksi yang dilakukan oleh GM hanya menunggu momentum, mengulang-ulangi momentum, maksudnya kurang dipahami oleh masyarakat, gampang dibabat polisi, dsb. Benarkah GM kini kurang dilandasi oleh semangat intelektual?

Saya pernah melakukan riset kecil-kecilan dengan bertanya pada beberapa aktivis GM di Purwokerto. Harry Kusuma (FMN), misalnya, menyatakan bahwa GM semakin kering gagasan karena dihantam oleh budaya popular yang mengepung kampus. Rakhman Kamali (IMM) menyatakan semakin sulitnya mahasiswa untuk diajak berdiskusi. Widianto Satria Nugraha (FMN) pernah curhat, GM di Purwokerto perlu membuat jaringan intelektual. Syahid Muthahhari (HMI) mengatakan bahwa kerja-kerja kebudayaan perlu dilakukan segera oleh aktivis mahasiswa di Purwokerto. Semua ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh aktivis mahasiswa mafhum bahwa ada bolong-bolong dalam GM: yaitu kurang gregetnya gerakan intelektual di internal dan lintas GM.

Dari latar belakang itulah, bisa dimengerti mengapa lahir jurnal FamB yang dikelola oleh aliansi GM Banyumas; mengapa ada jurnal Hijaiyah seperti yang sedang pembaca pegang ini. Dalam pengalaman saya menjadi mahasiswa di Purwokerto, belum pernah ada muncul jurnal-jurnal semacam itu –kalaupun ada barangkali hanya Jurnal Prophetika yang digawangi oleh Firdaus Putra.  Demi memajukan gerakan mahasiswa agar diperhitungkan, strategi gerakan intelektual perlu terus dikawal. Jangan sampai hilang di tengah jalan. Munculnya jurnal-jurnal GM dewasa ini harus dipertahankan.

Lalu, tantangan selanjutnya adalah membangun rantai gagasan antar gerakan lewat tulisan. Kalau aksi massa perlu beraliansi, maka aksi intelektual pun harus beraliansi. Biasanya, disinilah akan muncul pergesekan. Organisasi GM tertentu tidak mau mengintrodusir isu yang dibangun oleh GM lainnya.. Dan sebaliknya, dan seterusnya. Padahal, seringkali pemikiran antar organisasi itu beririsan. Tidak bisa menyatunya gagasan dan pemikiran praktis adalah lantaran egoisme antar organisasi. Kalau hal ini dipertahankan, gerakan intelektual pun juga tak akan memiliki greget.

Maka, metode seperti apa yang harus ditempuh agar pemikiran dari berbagai macam organisasi bisa terkonsolidasi dengan rapi dalam sebuah kesatuan gerakan intelektual? Jawabnya satu: dengan teknik “kutip-mengkutip”. Apa dan bagaimana maksud dari teknik kutip-mengkutip?

Edward Said pernah mengatakan bahwa kolonialisme tak akan bisa dilakukan tanpa orientalisme. Sementara itu orientalisme adalah wacana yang dibangun oleh berbagai macam intelektual dari dulu sampai sekarang. Mari kita buat semua itu dengan lebih sederhana. Orientalisme adalah kumpulan gagasan yang mengatakan bahwa orang Timur itu aneh, nyentrik dan terbelakang. Jadi kalau anda sekalian mengatakan bahwa orang Indonesia itu terbelakang daripada orang Barat, maka anda sudah teracuni virus orientalisme. Lantas, bagaimana kita tertulari virus orientalisme? Ya dari bacaan-bacaan yang kita konsumsi sehari-hari. Bacaan-bacaan itu saling mengkutip satu sama lain sehingga membentuk suatu totalitas pengetahuan tentang Timur yang terbelakang. Pengetahuan tentang Timur yang terbelakang ini dikutip oleh pelancong, oleh para sosiolog, antropolog, politikus, sastrawan, secara berbarengan. Sedemikian sehingga orang-orang Timur menjadi terpenjara oleh wacana tentang keterbelakangan timur.[8]

Bertolak dari gagasan Said itu, kenapa tidak para aktivis pergerakan mahasiswa di Purwokerto melakukan mimicry terhadap metode kutip-mengkutip itu? Bagaimanapun, GM perlu membariskan gagasan, lepas dari tendensi organisasi, jenis kelamin, alamat, umur, tanggal lahir, suku, agama, dan lain-lain. Dalam bahasa Gramsci, kita perlu membuat historical bloc. Ini adalah hal yang besar namun bisa dimulai dengan langkah yang sederhana. Saling bertukarlah gagasan antara satu sama lain. Jangan sungkan mengutip tulisan teman. Saya sudah coba terapkan metode ini dalam tulisan ini. Bisa dilihat bagaimana saya mengutip pendapat kawan Harry (FMN) dan Bagus (IMM). Tidak terlibatnya pendapat kawan lain organisasi kecuali dua itu bukan lantaran ego saya, namun belum menemukan saja.

Bagaimanapun, para intelektual-aktivis harus saling membariskan diri dalam berbagai macam aksi, baik itu turun ke jalan, atau gerakan intelektual. Mengingat apa yang pernah dikatakan Mohammad Hatta, “para kolonialis itu melakukan dua hal saja: 1) menjauhkan pemimpin dari rakyatnya dan 2) menjauhkan pemimpin dari pemimpin lainnya. Semoga kita bisa belajar dari imperatif Hatta yang kedua itu. Dengan cara membangun gagasan dan membariskan gagasan yang berserak, semoga saja, GM memiliki kekuatan lebih dalam melakukan agenda-agenda perubahan sosialnya.***


*(tulisan ini juga diterbitkan di Jurnal Hijaiyah HMI-MPO)





[5] Jurnal FamB edisi 1
[6] Marsilliam Simanjuntak, Gerakan Mahasiswa Mencari Definisi?, PRISMA, no. 2, April 1978, hal 31-36. 
[7] Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20, Bandung: Mizan, 2003.
[8] Zamzam Muhammad Fuad, Pemikiran Politik Edward Said tentang Peran Kaum Intelektual dalam Diskurus Orientalisme, 2012, skripsi untuk memenuhi tugas akhir di Jurusan Ilmu Politik Unsoed, naskah tidak diterbitkan. 

No comments:

Post a Comment