Tuesday, April 24, 2012

REAKTUALISASI SPIRIT DAKWAH MUHAMMADIYAH

Zamzam Muhammad


Sejak awal kelahirannya, Muhammadiyah selalu hadir di dalam sebuah konteks.  Konteks tersebut adalah ketidaksejahteraan umat.  Konteks ketidaksejahteraan umat itulah yang disadari atau tidak, telah memengaruhi cita-cita dan semangat perjuangan dakwah Muhammadiyah. 

Bertalian dengan hal di atas, maka dapatlah dipahami mengapa pendiri Muhammadiyah, K.H Ahmad Dahlan, memandang perlunya kader Muhammadiyah mesti memiliki spirit pembebasan, pencerahan dan pencerdasan.  Kader Muhammadiyah yang diharapkan oleh Ahmad Dahlan bukan sekedar kader yang cakap dalam hal ibadah yang bersifat ritual keagamaan semata.  Lebih dari itu, dalam pandangan Dahlan, ibadah juga sarat dengan dimensi sosial-keagamaan.  Dengan demikian, meningkatnya kesalehan individual mestinya berjalan linier dengan kesalehan sosial. 

Lahir dan berkembang di dalam konteks ketidaksejahteraan umat, membuat Muhammadiyah memiliki sensibilitas sosial yang sangat tinggi.  Hal ini terbukti dengan didirikannya PKO (Penolong Kesengsaraan Oemat) sebagai lembaga khusus yang sengaja dibuat untuk mengatasi persoalan-persoalan masyarakat.  Bergandengan dengan itu, didirikanlah beberapa rumah sakit dan sekolah-sekolah muhammadiyah yang terbuka untuk umum, tidak terbatas kelas sosial tertentu.  Pendirian rumah sakit dan sekolah-sekolah muhammadiyah ini boleh ditafsirkan sebagai aksi perlawanan terhadap pemerintah kolonial.  Betapa tidak, rumah sakit dan sekolah yang didirikan pemerintah kolonial hanya mengakomodasi segelintir golongan, yaitu golongan eropa dan golongan pribumi bangsawan.   

Semangat kader Muhammadiyah untuk mengentaskan kemiskinan dan kebodohan tercermin dari menjamurnya sekolah-sekolah Muhammadiyah di seantero nusantara.  Dalam bukunya Purifying the Faith, James L. Peacock mencatat bahwa sampai dengan 1939 Muhammadiyah telah memiliki 1744 sekolah, baik itu sekolah model pemerintah ataupun model madrasah.  Tidak kalah penting, sekolah-sekolah tersebut bersifat terbuka untuk umum. 

Geliat kader muhammadiyah memaksa pemerintah kolonial hindia-belanda meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan muhammadiyah.  Pasalnya, lembaga pendidikan muhammadiyah dianggap bom waktu yang dapat menciptakan rust en orde (ketertiban dan keamanan) dan menggerogoti hegemoni kekuasaan pemerintah kolonial. 

Mengingat hal ini, pemerintah kolonial kemudian membatasi berbagai kegiatan sosial muhammadiyah. Salah satunya adalah dengan melakukan labelisasi wildenscholeen (sekolah liar) terhadap beberapa sekolah muhammadiyah.  Akibatnya, beberapa sekolah muhammadiyah tidak lagi mendapatkan bantuan keuangan dari pemerintah kolonial hindia-belanda.  Aral yang dilintangkan oleh pemerintah kolonial tidak menyurutkan semangat juang kader muhammadiyah untuk terus bergerak.  Sebaliknya, gerakan sosial-keagamaan Muhammadiyah yang populis justru semakin meningkatkan jumlah kader Muhammadiyah. 

Mengambil pelajaran dari masa lalu merupakan jalan paling mudah untuk merumuskan masa depan.   Dengan demikian, agenda muhammadiyah sekarang hendaknya dapat mengambil spirit sejarah perjuangan muhammadiyah di masa lalu.

No comments:

Post a Comment