Friday, January 26, 2018

MENYINGKAP PELABUHAN CILACAP

 Zamzam Muhammad


Review buku: 
Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa
Penulis: Susanto Zuhdi
Penerbit: KPG, Jakarta

Apa yang tergambar ketika nama Cilacap disebut? Teluk penyu. Benteng Pendem. Nusakambangan. Panas. Gersang. Pacaran. Masih bisa dideret lebih panjang lagi jika mau. Tapi Cilacap sebagai “pelabuhan”, nyaris tidak terbayangkan.

Siapa mengira pelabuhan Cilacap pernah menjadi primadona di Jawa? Kalau kita tengok sekarang, di sana hanya ada tanker milik Pertamina (daridulu posisinya sama) dan kapal nelayan yang bisa membawa wisatawan ke Nusakambangan. Tidak pernah terpikir Cilacap pernah memiliki pelabuhan dagang terbesar di Jawa setelah Semarang.


Buku Susanto Zuhdi membuka mata kita, bahwa Cilacap pernah menjadi salah satu pusat perdagangan di Jawa. Ini memang agak mengejutkan. Sebab dalam buku pelajaran biasa, pusat perdagangan selalu ada di pantai utara Jawa. Musababnya adalah ombak di pantai selatan Jawa yang terlalu besar. Sehingga kapal tidak memungkinkan berlabuh di sana.

Harus diakui bahwa Cilacap tidak memiliki sejarah panjang pernah menjadi pelabuhan ramai. Dalam sejarah Jawa pra-kolonisasi Eropa, pelabuhan dagang yang memiliki pamor internasional tentu saja pelabuhan pantai utara, seperti Banten, Demak, Semarang, dsb. Pamor Cilacap menjadi pelabuhan perdagangan ekspor-impor baru dimulai ketika akhir abad 19. Pertanyaannya, ada apa di sana? Inilah yang mengusik Susanto Zuhdi untuk melakukan riset dan dibubukan dengan judul “Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa”.

Awal mula cerita adalah tanam paksa. Pada tahun 1830, uang kas kompeni jebol karena digunakan untuk membiayai Perang Diponegoro (1825-1830). Kompeni mencari cara, bagaimana agar neraca keuangannya membaik. Sementara itu rakyat pribumi tidak punya banyak uang untuk dipajaki. Situasi dilematis ini yang memunculkan gagasan tanam paksa. Rakyat tidak perlu membayar pajak dalam bentuk uang, namun harus membayarnya dalam bentuk hasil bumi tanaman ekspor (kopi, tebu, atau nila). Kebijakan tanam paksa diterapkan di seluruh Jawa, tak terkecuali di wilayah Banyumas, Purbalingga, Wonosobo, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Sumedang, Garut, Ciamis (jawa bagian tengah-selatan). Lalu bagaimana cara hasil bumi tanaman itu diekspor?

Saat itu, alat transportasi murah perdagangan lintas negara, ya, kapal laut. Untuk hasil bumi dari daerah Jawa bagian tengah-selatan, maka pilihannya tinggal lewat Pelabuhan Semarang atau Pelabuhan Cirebon. Tapi menurut hitung-hitungan kompeni, mengirim hasil bumi ke dua pelabuhan itu kurang efisien, alias boros, karena jarak yang terlalu jauh. Oleh karena itu kompeni berinisiatif membangun Pelabuhan Cilacap sebagai pelabuhan alternatif ekspor-impor. Kebijakan ini relatif berhasil. Pelabuhan Cilacap menjadi pelabuhan nomor 2 (setelah Semarang) dalam hal pengiriman tanaman ekspor.

Ada beberapa faktor yang membuat reputasi Pelabuhan Cilacap melejit. Di antaranya adalah pembangunan jaringan rel kereta yang menghubungkan daerah Jawa bagian tengah-selatan dengan Pelabuhan Cilacap. Selain itu juga adanya sungai besar yang dapat mengantarkan hasil bumi ke Pelabuhan Cilacap.

Namun pamor Pelabuhan Cilacap segera meredup. Paling tidak ada tiga faktor utama. Infrastruktur, ekonomi internasional, ekologi, dan politik.

Dari segi infrastruktur, banyak sarana menuju Pelabuhan Cilacap. Akan tetapi hampir semuanya tidak terawat. Jalan darat menuju Pelabuhan Cilacap sangat rusak. Pemerintah kompeni juga kurang tanggap terhadap pendangkalan sungai. Pelabuhan Cilacap meredup juga karena adanya depresi ekonomi Eropa pada 1929. Negara Eropa kehilangan daya beli. Aktivitas perdagangan ekspor di Pelabuhan Cilacap terganggu. Dari segi ekologi, daerah sekitaran Pelabuhan Cilacap juga menjadi wilayah endemik malaria. Jurus terakhir yang menghabisi reputasi Pelabuhan Cilacap adalah menyerahnya Belanda kepada Jepang.


Di sini kita bisa memetik pelajaran. Sumber malapetaka bagi Pelabuhan Cilacap adalah kebergantungan pada kebijakan pemerintah kompeni. Dari awal sudah diketahui bahwa sebelum kompeni, hampir tidak ada aktivitas perdangan di pantai Cilacap. Artinya, Pelabuhan Cilacap benar-benar proyek kreasi kompeni Belanda. Tujuannya adalah untuk mengangkut hasil bumi tanam paksa. Ketika tidak ada lagi tanam paksa, Pelabuhan Cilacap sulit mencari alasan, untuk apa terus ada. 

1 comment: