Saturday, January 20, 2018

SRINTIL, RONGGENG DAN HANTAMAN MODERNITAS

 Zamzam Muhammad


Review buku: 
Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari dan Jantera Bianglala
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia, Jakarta


Jika kau rindu orang, pergilah ke kota. Jika kau mau menemui manusia, kembalilah ke desa. Tidak ada sisi kehidupan yang komplit, selengkap di desa. Di sana ada interaksi manusia dengan manusia, baik yang masih hidup, atau yang sudah mati dan jadi leluhur. Ada interaksi manusia dengan pohon, burung-burung, telaga, ayam, dan tahi sapi. Semilir angin menjadikan desa tidak pernah sepi. Karena akan selalu ada kemresek dedaunan.


Desa adalah tempat tinggal manusia, bukan orang. Maka di sana ada kemanusiaan. Di sana ada laku memaafkan bagi kesalahan yang sebenarnya tak termaafkan. Pertolongan pada sesuatu yang sebenarnya sudah tak tertolong. Hanya di desa, derita tidak muncul dalam bahasa.


Namun ada kota di seberang desa. Kota yang memiliki hukumnya sendiri. Dengan uang sebagai bahasa ibunya. Maka hanya dengan uang mereka saling bicara. Mereka yang tanpa uang, tiada pilihan lain kecuali bungkam. Di kota, manusia disulap menjadi orang. Kemanusiaannya hilang.

Trilogi Novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jantera Bianglala memotret dinamika kehidupan masyarakat di desa. Sebuah desa bernama Dukuh Paruk menjadi latar utama cerita. Dengan tokoh Srintil sebagai pusatnya.  Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk mengisahkan bagaimana desa terpuruk dan tersuruk oleh penetrasi kota.

Dukuh Paruk merupakan pedukuhan terpencil di sebuah desa. Hampir seluruh masyarakat desa tahu, Dukuh Paruk identik dengan kemiskinan dan kebodohan. Namun ada satu yang membuat Dukuh Paruk dihormati, yaitu kesenian ronggeng.

Tidak semua perempuan Dukuh Paruk bisa menjadi ronggeng. Hanya yang terpilih, yang dirasuki roh ronggeng, yang bisa. Srintil sejak umur sebelas tahun menunjukkan ciri-ciri sebagai ronggeng. Kecantikannya, kecentilannya, suaranya, lemparan pinggulnya, membuat sesepuh Dukuh Paruk sulit menolak: Srintil telah kesurupan roh ronggeng.

Dukuh Paruk menjadi saksi kehidupan sebuah desa yang jujur, polos, dan selaras. Memang, tidak banyak yang bisa makan nasi. Tapi itu tidak terlalu penting. Sebab Dukuh Paruk punya kehormatan. Karena di sana ada Ronggeng, dan Srintil.

Namun Dukuh Paruk perlahan mati kehilangan kehormatannya. Keperkasaan ronggeng dan Srintil mengalami pasang surut. Ini bermula ketika Rasus, kekasih Srintil, memutuskan pergi untuk menjadi tentara. Tidak mudah sebenarnya bagi Rasus untuk menginggalkan Dukuh Paruk. Di sana ada Neneknya dan juga Srintil. Tapi mau bagaimana, nenek sudah tua. Rasus harus bekerja, dan Srintil telah menjadi ronggeng, sehingga tidak mungkin dimiliki sendiri. Ronggeng adalah milik umum. Sejak Rasus pergi, Srintil hancur. Sebab hanya dengan mencintai Rasus, ia merasa menjadi perempuan dan manusia. Kini ia hanya seonggok daging, yang mencari uang dengan meronggeng.

Karena mengejar uang itulah, Srintil jadi bersentuhan dengan dunia politik. 1960an adalah tahun politik, yang ditandai dengan rapat-rapat politik akbar.  Atensi, semangat, dan uang terkonsentrasi pada rapat-rapat politik itu. Lantaran uang ada di sana, dan Srintil mengejarnya, maka persetubuhan ronggeng dengan politik sulit terhindarkan.

Pada pangkalan sejarah ini, nama kesenian ronggeng berubah menjadi “Kesenian Rakyat”. Pada 1966, penguasa menjatuhkan vonis bahwa partai komunis harus dihabisi hingga akar-akarnya. Tidak peduli Ronggeng Srintil adalah bunga, daun, batang, atau akarnya partai komunis, bagaimanapun ia sering menjadi hiburan rapat akbar partai komunis. Srintil bersalah dalam kacamata penguasa saat itu. Srintil ditahan. Ronggeng dibubarkan.

Keluar dari tahanan, Srintil tidak lagi meronggeng. Ia sadar, bahwa takdir perempuan adalah menjadi ibu, yang mengasuh anak dan memberikan ketentraman pada keluarga. Bukan menjadi ronggeng yang kerjaannya membakar libido kelaki-lakian.  Selain itu, Ronggeng juga telah dilarang. Srintil tidak tahu banyak mengapa demikian, kecuali dalam pengetian ronggeng = komunis = penjara.

Dalam kehidupannya yang baru, mandor perkebunan masih tergila-gila pada Srintil. Dipaksanya Srintil melayani nafsu bejat kelaki-lakiannya. Walau Srintil berhasil melawan, namun Srintil tetap terluka. Hatinya sakit. Betapa laki-laki telah mengoyak kehidupannya. Srintil kapok pada laki-laki.

Hingga pada suatu saat Srintil bertemu dengan mandor proyek bendungan dari Jakarta. Bajus, tidak seperti laki-laki lainnya, ia ngemong. Srintil percaya padanya. Bahkan siap dipinang olehnya. Tapi siapa sangka Srintil justru dijual oleh Bajus kepada bosnya, dengan harapan mendapat jatah proyek pembangunan infrastruktur. Srintil hancur, tersungkur.

Bersamaan dengan itu, Dukuh Paruk yang tadinya selaras, teduh, jujur dan polos, kini telah berubah.  Dukuh Paruk telah dicabuli oleh simbol-simbol modernisasi: uang, politik, perkebunan, bendungan, tentara, dan Jakarta. Dan semua instrumen itu menyerbu  Srintil tanpa ampun. Sampai membuat Srintil gila, merana, ambruk, terpuruk. Maka demikian juga dengan Dukuh Paruk.

No comments:

Post a Comment